Logo
LPMP Lampung
images

Designed by Freepik, http://www.freepik.com

Menyiapkan Pembelajaran dalam Memasuki “New Normal” dengan Blended Learning

Beberapa bulan sudah kita hidup dalam masa pandemi Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) yang mengharuskan kita untuk bekerja, belajar, dan beribadah dari rumah. Sekarang ini kita akan memasuki tatanan kehidupan babak baru dalam masa pendemi COVID-19, yaitu  “New Normal.” 

Menurut Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19 Wiku Adisasmita, “New Normal” adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas secara normal namun dengan ditambah menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan COVID-19 (Bramasta, 2020).

Jadi “New Normal” adalah  kehidupan normal yang baru, artinya kehidupan yang kita jalani secara normal tetapi dengan pola hidup yang baru.  Pola hidup baru itu terkait dengan penerapan protokol kesehatan seperti physical distancing, rajin cuci tangan dengan sabun atau hand sanitizer, memakai masker, dan pola makan bergizi. Ini akan terjadi dalam semua aspek kehidupan masyarakat di Indonesia.

Pendidikanpun tidak bisa lepas dari “New Normal” ini.  Lalu bagaimana proses pembelajaran dilakukan pada  “New Normal” ini?  Pembelajaran seperti apa yang tepat diterapkan pada “New Normal”?

Marilah kita melihat realitas saat ini, pembelajaran yang terjadi pada masa pandemi COVID-19 adalah distance learning atau pembelajaran jarak jauh (PJJ). PJJ ini dilakukan baik melalui pembelajaran dalam jaringan (daring) atau pembelajaran di luar jaringan (luring). Bahkan sebagian besar menggunakan kombinasi daring dan luring (LPMP Lampung, 2020).

Pandemi COVID-19 telah “memaksa” seluruh komponen pendidikan di Indonesia melaksanakan PJJ. Implementasi PJJ telah mengenalkan pembelajaran daring dan luring.  Pembelajaran daring adalah pembelajaran dimana siswa dan guru terkoneksi dalam jaringan internet (online). Sedangkan luring pembelajaran tidak memanfaatkan jaringan internet (offline).

Sistem pembelajaran kita telah berubah.  Pembelajaran di dalam kelas semula dengan tatap muka  menjadi tatap maya dengan menggunakan teknologi seperti video conference atau web conference. 

Begitu juga pembelajaran di luar kelas  juga manfaatkan berbagai teknologiSiswa secara mandiri mencari informasi dengan melihat di televisi atau video,  membaca di media cetak maupun online, dan mendengarkan radio atau podcast.

Namun sayang dalam belajar dari rumah ini kegiatan belajar mandiri secara kolaboratif antar siswa minim terjadi. Hal ini karena keterbatasan media pembelajaran kolaboratif secara online. Disamping juga keterbatasan kemampuan guru dalam memanfaatkan media pembelajaran kolaboratif secara online.

Yang terjadi kemudian adalah kolaborasi antara siswa dengan keluarga, bisa dengan ayah, ibu, adik, atau kakak. Kondisi seperti ini kadangkala menimbulkan permasalahan karena belum tentu terdapat kesepadanan antar kolaborator.  Dampak buruknya terjadi pada siswa seperti banyak keluhan dan kebosanan belajar dari rumah.

Kondisi psikologis anak yang terjadi dalam pelaksanaan belajar dari rumah inilah yang mendorong siswa ingin segera kembali belajar secara normal di sekolah.  Keinginan sebagian besar siswa ini selaras dengan kebijakan pemerintah dengan menerapkan kebijakan “New Normal” pada masa pandemi COVID-19.

Bagaimana persiapan pelaksanaan pembelajaran pada masa“New Normal”  yang  akan dilakukan sekolah dan guru? Bagaimana kebijakan terkait regulasi dan kurikulum perlu disiapkan oleh pemerintah?. Baca selengkapnya di sini. (*)

*) Penulis : Heri Dwiyanto, S.S., M.Pd., Pengembang Teknologi Pembelajaran LPMP Lampung


TAG

Dipost Oleh Solekul Hadi

Penyusun Informasi dan Publikasi